Jakarta, 10 September 2026 – Kebakaran hebat melanda kapal feri penumpang MV June Aster di perairan dekat Coron, Provinsi Palawan, Filipina, menyebabkan sedikitnya lima orang meninggal dunia dan lebih dari 80 lainnya masih belum ditemukan. Kapal tersebut terbakar pada Rabu malam, 9 September 2026, ketika sedang melakukan perjalanan dari Manila menuju Coron, salah satu kawasan wisata populer di Filipina. Berdasarkan manifes, terdapat 134 orang di dalam kapal yang terdiri atas 117 penumpang dan 17 awak. Hingga Kamis, sedikitnya 43 orang telah berhasil diselamatkan. Jumlah korban dan orang yang belum ditemukan masih dapat berubah karena proses pencarian terus dilakukan.
Kebakaran terjadi ketika MV June Aster berada sekitar 2,2 kilometer dari pesisir Coron. Api dengan cepat membesar hingga melalap sebagian besar kapal dan menghasilkan kepulan asap hitam tebal. Rekaman dari operasi penyelamatan memperlihatkan kondisi kapal yang hangus sementara asap masih keluar beberapa jam setelah kebakaran berlangsung. Situasi tersebut membuat petugas tidak dapat segera memasuki seluruh bagian kapal. Suhu yang sangat tinggi dan kemungkinan terjadinya ledakan lanjutan menjadi risiko utama bagi tim penyelamat.
Seorang penyintas dilaporkan mendengar suara ledakan keras dari bagian ruang kargo sebelum api menyebar dengan cepat. Kesaksian tersebut kini menjadi salah satu informasi yang diperiksa dalam penyelidikan penyebab kebakaran. Namun, otoritas Filipina belum menetapkan sumber ledakan maupun penyebab pasti munculnya api. Penyelidikan menyeluruh baru dapat dilakukan setelah kondisi kapal dinilai cukup aman untuk dimasuki. Karena itu, berbagai kemungkinan mengenai penyebab kejadian belum dapat disimpulkan.
MV June Aster diketahui membawa sejumlah kendaraan dan barang ketika melakukan perjalanan tersebut. Muatannya antara lain lima sepeda motor, satu kendaraan listrik, sebuah forklift, satu mobil pikap serta berbagai barang kargo lainnya. Keberadaan kendaraan dan muatan di ruang kargo akan menjadi salah satu bagian yang diperiksa penyelidik. Petugas perlu mengetahui titik awal kebakaran sekaligus bagaimana api dapat menyebar begitu cepat ke bagian lain kapal. Pemeriksaan terhadap sistem kelistrikan, bahan bakar, muatan dan prosedur keselamatan juga diperkirakan menjadi bagian dari investigasi.
Kondisi darurat membuat sejumlah penumpang diduga memilih melompat ke laut ketika api semakin besar. Beberapa korban yang ditemukan dalam keadaan selamat bahkan dilaporkan tidak mengenakan jaket pelampung. Situasi tersebut menggambarkan cepatnya perkembangan kebakaran sehingga penumpang hanya mempunyai waktu terbatas untuk menyelamatkan diri. Tim penyelamat kemudian menyisir perairan di sekitar kapal untuk mencari orang yang terapung maupun terbawa arus. Nelayan setempat ikut membantu membawa para penyintas menuju tempat yang lebih aman.
Operasi pencarian melibatkan unsur penjaga pantai, militer, pemerintah daerah, nelayan serta pemilik kapal-kapal pribadi di sekitar Coron. Dua kapal penjaga pantai berukuran sekitar 44 meter dan sejumlah kapal berukuran lebih kecil dikerahkan untuk menyisir wilayah tersebut. Perahu penyelamat milik militer juga ikut bergabung dalam operasi, sementara sebuah pesawat disiapkan untuk memberikan dukungan dari udara. Keterlibatan masyarakat lokal menjadi penting karena beberapa kapal nelayan berada relatif dekat dengan lokasi kejadian. Tim berusaha memperluas pencarian untuk mengantisipasi korban yang terbawa arus menjauh dari posisi awal kapal.
Arus laut yang kuat dan kondisi cuaca menjadi tantangan tambahan dalam proses pencarian. Kapal yang terbakar juga mengalami pergeseran dari lokasi awal sehingga area yang harus diperiksa menjadi semakin luas. Petugas harus memperhitungkan arah arus untuk memperkirakan kemungkinan posisi orang yang terjatuh atau melompat ke laut. Operasi pencarian sempat dihentikan ketika kondisi tidak lagi memungkinkan dilakukan dengan aman dan direncanakan dilanjutkan kembali. Setiap jam dinilai penting karena sebagian besar orang dalam manifes masih belum diketahui keberadaannya.
Dari 134 orang yang tercatat dalam manifes, perkembangan data terakhir menunjukkan 43 orang telah ditemukan selamat dan lima korban dipastikan meninggal dunia. Dengan perhitungan tersebut, sekitar 86 orang masih belum ditemukan, meskipun angka sebelumnya sempat disebut mencapai 87 orang ketika jumlah penyintas yang terkonfirmasi masih 42. Otoritas menekankan data bersifat dinamis karena identitas korban, penyintas dan orang yang belum ditemukan masih diverifikasi. Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan keluarga untuk memastikan daftar penumpang sesuai kondisi sebenarnya. Langkah tersebut penting agar tidak terjadi perbedaan antara manifes kapal dan jumlah orang yang benar-benar berada di dalam kapal.
Dua warga negara Chile termasuk di antara mereka yang berhasil diselamatkan. Otoritas sebelumnya juga melakukan pemeriksaan terhadap informasi mengenai keberadaan warga asing di dalam kapal. Identitas korban meninggal belum seluruhnya diumumkan karena proses verifikasi dan pemberitahuan kepada keluarga masih dilakukan. Para penyintas yang membutuhkan penanganan medis telah dibawa menuju fasilitas kesehatan. Beberapa korban dilaporkan mengalami kondisi serius sehingga membutuhkan perawatan lebih lanjut.
Sebelum kejadian, MV June Aster disebut telah melewati pemeriksaan keselamatan dan mempunyai kapasitas maksimum sekitar 330 orang. Jumlah 134 orang dalam manifes berarti kapal tidak berada dalam kondisi melebihi kapasitas berdasarkan data awal tersebut. Fakta itu membuat penyelidikan kemungkinan lebih difokuskan pada sumber kebakaran, kondisi ruang kargo dan respons darurat ketika api pertama kali muncul. Pemeriksaan terhadap perlengkapan keselamatan serta prosedur evakuasi juga diperlukan untuk mengetahui apakah seluruh sistem berfungsi sebagaimana mestinya. Keterangan dari awak dan penyintas akan menjadi bagian penting dalam merekonstruksi kronologi.
Perusahaan yang mengoperasikan MV June Aster menyatakan bekerja sama dengan otoritas dalam penanganan insiden dan penyelidikan. Perusahaan juga menyatakan telah mengerahkan sumber daya yang tersedia untuk membantu proses penanganan korban. Pemeriksaan terhadap kapal baru dapat dilakukan secara optimal setelah api benar-benar terkendali dan struktur kapal aman bagi penyelidik. Kondisi kapal yang masih mengeluarkan asap membuat pemeriksaan awal berjalan terbatas. Prioritas utama sementara ini tetap pencarian orang yang belum ditemukan.
Insiden tersebut kembali menyoroti pentingnya keselamatan transportasi laut di Filipina. Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 7.600 pulau, kapal feri menjadi salah satu moda transportasi utama yang menghubungkan berbagai provinsi dan kota. Jutaan penduduk bergantung pada transportasi laut untuk perjalanan sehari-hari maupun distribusi barang. Sejumlah kecelakaan besar pernah terjadi akibat kombinasi cuaca buruk, persoalan teknis, kepadatan penumpang dan kelemahan penerapan standar keselamatan. Setiap insiden besar biasanya diikuti evaluasi terhadap prosedur pemeriksaan dan kesiapan evakuasi kapal.
Pencarian terhadap puluhan orang yang masih belum ditemukan kini menjadi fokus utama otoritas Filipina. Penjaga pantai meminta keluarga yang merasa mempunyai kerabat dalam perjalanan tersebut untuk memberikan informasi agar proses pencocokan data dapat dilakukan secara akurat. Sementara penyebab kebakaran masih diselidiki, operasi penyelamatan akan terus diarahkan ke wilayah yang diperkirakan menjadi jalur pergerakan korban akibat arus laut. Angka lima korban meninggal dan lebih dari 80 orang hilang masih bersifat sementara karena situasi terus berkembang. Pemerintah Filipina berharap perluasan operasi pencarian dapat menemukan lebih banyak penyintas dari tragedi MV June Aster tersebut.





