Jakarta, 18 September 2026 – Iran menyampaikan tujuh persyaratan kepada Amerika Serikat yang harus dipenuhi sebelum Selat Hormuz dapat dibuka kembali sepenuhnya bagi pelayaran. Persyaratan tersebut disampaikan melalui perantara di tengah upaya diplomatik untuk meredakan konflik yang telah mengganggu salah satu jalur energi terpenting dunia. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan Teheran telah menyampaikan tuntutannya kepada Washington. Namun, pemerintah Iran belum mempublikasikan secara resmi seluruh rincian tujuh syarat tersebut. Sejumlah tuntutan yang telah disampaikan secara terbuka mencakup penghentian perang, pencabutan blokade laut serta penyelesaian persoalan aset Iran yang dibekukan. Teheran menegaskan pembukaan penuh Selat Hormuz bergantung pada tercapainya kesepakatan mengenai tuntutan tersebut.
Salah satu tuntutan utama Iran adalah berakhirnya pertempuran di seluruh front yang berkaitan dengan konflik regional. Teheran juga meminta Amerika Serikat menghentikan blokade terhadap pelabuhan Iran dan menarik tekanan militer yang dianggap mengancam wilayahnya. Persyaratan lain yang sebelumnya disampaikan pejabat Iran mencakup pencabutan sanksi serta pelepasan aset Iran yang dibekukan atau disita. Iran juga menuntut kompensasi atas kerusakan yang menurut Teheran terjadi akibat perang. Beberapa tuntutan sebelumnya turut mencakup penghentian ancaman terhadap Iran serta serangan terhadap kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Teheran di kawasan. Namun, rincian final tujuh syarat terbaru belum seluruhnya diumumkan sehingga daftar tersebut masih harus dibedakan dari tuntutan yang disampaikan Iran pada tahap negosiasi sebelumnya.
Qatar disebut berperan sebagai perantara dalam penyampaian persyaratan terbaru Iran kepada Washington. Selain Qatar, Oman juga memainkan peran penting dalam pembicaraan mengenai pengaturan pelayaran di Selat Hormuz. Iran dan Oman telah membahas rute masuk dan keluar bagi kapal yang melintasi kawasan tersebut. Kesepakatan teknis mengenai jalur pelayaran itu tidak otomatis berarti Selat Hormuz telah dibuka kembali secara penuh. Iran tetap mengaitkan pembukaan jalur tersebut dengan penyelesaian persoalan politik dan keamanan bersama Amerika Serikat. Diplomasi melalui negara-negara Teluk kini menjadi salah satu jalur yang digunakan untuk mencegah konflik berkembang semakin luas.
Selat Hormuz memiliki posisi sangat strategis karena sebelum konflik menjadi jalur bagi sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia. Gangguan terhadap lalu lintas kapal sejak konflik meningkat telah memberikan tekanan terhadap perdagangan dan harga energi internasional. Kapal tanker harus menghadapi risiko keamanan lebih tinggi, sementara sejumlah negara berusaha mencari alternatif untuk mempertahankan pasokan energi. Amerika Serikat juga menjalankan operasi di kawasan dengan alasan menjaga keamanan pelayaran dan membantu pergerakan kapal. Iran, di sisi lain, memandang kehadiran militer AS dan blokade terhadap kepentingannya sebagai bagian dari persoalan yang harus diselesaikan. Perbedaan pandangan mengenai keamanan dan pengelolaan jalur tersebut menjadi hambatan utama dalam negosiasi.
Washington belum menunjukkan bahwa seluruh tuntutan Iran dapat diterima. Amerika Serikat sebelumnya menegaskan Selat Hormuz merupakan jalur perairan internasional sehingga pelayaran tidak seharusnya bergantung pada persetujuan sepihak suatu negara. Pemerintahan Presiden Donald Trump juga menghadapi pilihan antara melanjutkan tekanan terhadap Iran atau kembali mendorong perundingan untuk mengurangi ketegangan. Iran menyatakan tetap membuka ruang diplomasi apabila kepentingan dan kedaulatannya dihormati. Pada saat yang sama, pejabat keamanan Iran memperingatkan negaranya siap menghadapi konflik lebih lanjut apabila perundingan gagal. Situasi tersebut membuat proses negosiasi masih menghadapi perbedaan besar antara posisi kedua negara.
Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu isu terpenting dalam upaya meredakan ketegangan Iran-AS karena dampaknya melampaui kawasan Timur Tengah. Pemulihan pelayaran dapat membantu mengurangi risiko gangguan pasokan minyak dan gas sekaligus memberikan kepastian lebih besar kepada perdagangan internasional. Namun, kesepakatan teknis mengenai jalur kapal belum cukup selama tuntutan politik dan keamanan kedua pihak belum menemukan titik temu. Iran masih menunggu respons Washington terhadap persyaratan yang telah disampaikan melalui perantara. Negara-negara seperti Qatar dan Oman diperkirakan terus memainkan peran diplomatik untuk mempersempit perbedaan kedua pihak. Keputusan mengenai tujuh syarat tersebut akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan apakah Selat Hormuz dapat kembali beroperasi secara penuh atau tetap berada dalam kondisi terbatas.






