Jakarta, 28 Agustus 2026 – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menemukan penyelesaian kembali menempatkan Turki dalam posisi sulit. Ankara kini menghadapi meningkatnya ketegangan dengan Israel, sementara perang AS-Israel melawan Iran yang telah berlangsung berbulan-bulan belum sepenuhnya berakhir. Situasi tersebut membuat Turki harus menjaga keseimbangan antara kepentingan keamanan nasional, hubungan dengan Amerika Serikat sebagai sesama anggota NATO, serta kedekatannya dengan Iran dan negara-negara lain di kawasan. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berulang kali menyerukan penyelesaian melalui diplomasi karena khawatir konflik yang lebih luas dapat menyebar ke negara-negara lain di Timur Tengah.
Perang AS-Iran sendiri masih berada dalam situasi yang belum menentu. Washington terus memberikan tekanan terhadap Teheran, termasuk melalui sanksi ekonomi dan tekanan terhadap jalur perdagangan Iran. Di sisi lain, Iran tetap menolak tekanan yang dianggap memaksa dan masih membuka kemungkinan diplomasi dengan syarat Amerika Serikat mengubah pendekatannya. Upaya sejumlah negara untuk menjadi penengah juga belum menghasilkan kesepakatan permanen. Kondisi tersebut membuat konflik yang awalnya berpusat pada Iran semakin berpotensi memengaruhi keamanan negara-negara di sekitarnya, termasuk Turki yang memiliki perbatasan langsung dengan Iran.
Ankara sejak awal berusaha mencegah konflik tersebut berkembang menjadi perang regional. Erdogan bahkan telah meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengutamakan perundingan dengan Iran dan menyatakan bahwa Turki siap mendukung upaya perdamaian. Bagi Turki, berakhirnya konflik AS-Iran penting untuk menjaga stabilitas kawasan sekaligus melindungi kepentingan ekonomi dan keamanan nasional. Perang berkepanjangan dapat mengganggu perdagangan, jalur energi, transportasi, serta meningkatkan tekanan terhadap negara-negara yang berada di sekitar wilayah konflik. Turki juga berkepentingan menjaga agar arus pengungsi dan aktivitas kelompok bersenjata tidak semakin meningkat akibat ketidakstabilan di kawasan.
Namun, persoalan Turki tidak berhenti pada konflik AS-Iran. Hubungan Ankara dengan Israel juga semakin memburuk akibat kebijakan Israel di Gaza, Lebanon, dan Suriah. Erdogan menilai serangan Israel di negara-negara tersebut telah menciptakan ancaman yang semakin dekat dengan kepentingan keamanan Turki. Ankara bahkan mengambil sejumlah langkah diplomatik dan hukum terhadap pejabat Israel sebagai bentuk tekanan. Ketegangan tersebut membuat hubungan kedua negara berada pada titik yang jauh lebih sensitif dibandingkan sebelumnya, terutama karena perkembangan militer Israel di wilayah yang berdekatan dengan kepentingan strategis Turki.
Suriah menjadi salah satu wilayah yang paling berpotensi mempertemukan kepentingan Turki dan Israel secara langsung. Turki memiliki kepentingan keamanan yang besar di Suriah karena berbatasan langsung dengan negara tersebut dan selama bertahun-tahun terlibat dalam persoalan kelompok bersenjata di kawasan. Sementara itu, Israel juga meningkatkan aktivitas militernya di wilayah Suriah dengan alasan keamanan. Setiap perubahan situasi di Suriah dapat memengaruhi perhitungan militer Ankara. Karena itu, Turki melihat perkembangan operasi Israel di Suriah dan Lebanon bukan hanya sebagai persoalan antara Israel dengan pihak-pihak yang menjadi lawannya, tetapi sebagai perkembangan yang berpotensi memberikan dampak langsung terhadap keamanan Turki.
Ketegangan tersebut membuat munculnya kekhawatiran mengenai kemungkinan konflik langsung antara Turki dan Israel. Meski demikian, ancaman tersebut belum berarti kedua negara berada dalam kondisi menuju perang terbuka. Turki masih menggunakan jalur diplomatik, sementara Israel dan Turki juga memiliki kepentingan untuk menghindari bentrokan langsung yang dapat memperluas konflik. Risiko tetap meningkat apabila aktivitas militer kedua pihak semakin mendekati wilayah atau kepentingan strategis masing-masing. Dalam situasi seperti itu, kesalahan perhitungan atau insiden militer dapat memicu eskalasi yang lebih besar dan sulit dikendalikan.
Posisi Turki juga menjadi semakin rumit karena negara tersebut merupakan anggota NATO dan memiliki salah satu kekuatan militer terbesar di aliansi tersebut. Pada saat yang sama, Ankara mempertahankan hubungan dengan Iran dan berusaha memainkan peran sebagai mediator dalam konflik. Turki tidak ingin terseret sepenuhnya ke dalam salah satu kubu karena hal tersebut dapat mempersempit ruang diplomatik yang selama ini digunakan Erdogan untuk berkomunikasi dengan berbagai pihak. Strategi tersebut membuat Ankara berusaha mempertahankan hubungan dengan Washington sekaligus tetap membuka saluran komunikasi dengan Teheran dan negara-negara lain yang memiliki kepentingan berbeda.
Kekhawatiran terhadap meluasnya konflik juga telah disampaikan dalam pembahasan keamanan nasional Turki. Ankara memperingatkan bahwa perang yang terus berlanjut antara Amerika Serikat dan Iran dapat menyebar ke negara-negara lain serta mengganggu jalur perdagangan global. Peringatan tersebut menjadi semakin relevan karena kawasan Timur Tengah memiliki sejumlah jalur perdagangan dan energi yang sangat penting bagi perekonomian dunia. Gangguan berkepanjangan dapat meningkatkan biaya energi, menghambat distribusi barang, dan memberikan tekanan tambahan terhadap negara-negara yang memiliki ketergantungan terhadap kawasan tersebut.
Di tengah situasi tersebut, Erdogan berusaha menegaskan bahwa Turki tidak menginginkan perang baru. Pemerintah Turki tetap menyatakan komitmen terhadap stabilitas kawasan dan mendorong penyelesaian melalui dialog. Ankara juga terus melakukan komunikasi dengan berbagai negara yang memiliki pengaruh terhadap konflik, termasuk Amerika Serikat, Iran, Qatar, Pakistan, dan negara-negara Arab. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Turki masih berusaha menggunakan jalur diplomasi untuk mencegah konflik berkembang menjadi bentrokan yang melibatkan lebih banyak negara. Namun, ruang gerak Ankara akan semakin sulit apabila konflik AS-Iran dan ketegangan dengan Israel berlangsung secara bersamaan dalam waktu yang panjang.
Dengan konflik AS-Iran yang belum sepenuhnya berakhir dan hubungan Turki-Israel yang terus memburuk, Ankara kini berada di tengah pusaran ketegangan geopolitik Timur Tengah. Turki belum menyatakan niat untuk berperang melawan Israel dan justru terus menyerukan diplomasi, tetapi pemerintah Erdogan melihat perkembangan militer Israel di kawasan sebagai persoalan yang semakin berkaitan dengan keamanan negaranya. Pada saat yang sama, Turki harus menghadapi risiko ekonomi dan keamanan apabila perang Iran kembali meningkat. Karena itu, langkah Ankara dalam beberapa pekan mendatang akan sangat menentukan apakah ketegangan tersebut dapat diredam melalui diplomasi atau justru berkembang menjadi konflik yang melibatkan lebih banyak kekuatan regional.







