Jakarta, 3 September 2026 – Hubungan antara kelompok Houthi di Yaman dan Al-Shabaab di Somalia semakin menjadi perhatian karena dinilai berpotensi memperbesar ancaman terhadap keamanan pelayaran di Laut Merah dan Teluk Aden. Kedua kelompok diketahui mengembangkan hubungan yang bersifat transaksional melalui pertukaran senjata, pelatihan, informasi, hingga aktivitas penyelundupan. Perkembangan terbaru bahkan menunjukkan adanya indikasi koordinasi yang semakin erat dalam aktivitas maritim di kawasan tersebut. Kondisi ini menjadi sangat sensitif karena wilayah antara Yaman dan Tanduk Afrika berada di sekitar Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia. Gangguan keamanan di kawasan itu dapat memengaruhi perjalanan kapal tanker minyak maupun kapal komersial yang menuju atau meninggalkan Terusan Suez. Risiko menjadi semakin besar ketika jalur energi global lainnya, termasuk Selat Hormuz, juga sedang menghadapi tekanan geopolitik dan penurunan aktivitas pelayaran.
Hubungan Houthi dan Al-Shabaab sebenarnya bukan fenomena yang sepenuhnya baru. Laporan internasional sebelumnya menemukan adanya transfer senjata dari Yaman menuju Somalia serta pemberian pelatihan teknis kepada anggota Al-Shabaab. Kerja sama tersebut dinilai lebih didorong kepentingan praktis dibandingkan kesamaan ideologi karena kedua kelompok berasal dari latar belakang yang berbeda. Houthi mendapatkan keuntungan dari perluasan jaringan dan pengaruhnya di sekitar Laut Merah, sementara Al-Shabaab berpotensi memperoleh akses terhadap kemampuan militer yang sebelumnya lebih sulit mereka miliki. Salah satu kekhawatiran terbesar adalah transfer pengetahuan mengenai penggunaan pesawat nirawak atau drone. Jika kemampuan tersebut semakin berkembang, ancaman terhadap sasaran di darat maupun aktivitas maritim dapat menjadi lebih kompleks.
Laporan yang muncul pada Agustus 2026 semakin meningkatkan kekhawatiran mengenai hubungan tersebut. Informasi yang beredar menyebut Houthi memberikan informasi logistik dan mengidentifikasi kapal yang dianggap sebagai sasaran prioritas, sementara jaringan Al-Shabaab dapat membantu meneruskan informasi kepada kelompok yang bergerak di perairan Somalia. Dugaan koordinasi semacam ini menunjukkan hubungan keduanya berpotensi berkembang dari perdagangan senjata menjadi kerja sama operasional di laut. Namun, tingkat koordinasi dan kendali langsung antara kedua kelompok tetap perlu dilihat berdasarkan bukti yang dapat diverifikasi. Tidak seluruh aktivitas pembajakan di perairan Somalia dapat secara otomatis dikaitkan dengan Al-Shabaab maupun Houthi. Meski demikian, kemungkinan terjadinya pertemuan antara jaringan militansi, penyelundupan, dan pembajakan merupakan risiko yang mendapatkan perhatian serius.
Posisi geografis menjadi alasan mengapa perkembangan tersebut memiliki konsekuensi jauh melampaui Yaman dan Somalia. Bab el-Mandeb memiliki lebar yang relatif sempit dan menjadi pintu masuk menuju Laut Merah bagi kapal yang bergerak antara Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Kapal yang melewati Terusan Suez pada akhirnya harus melintasi kawasan tersebut apabila datang dari Samudra Hindia. Gangguan keamanan dapat membuat perusahaan pelayaran memilih rute lebih panjang mengelilingi Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Perubahan rute tersebut meningkatkan waktu perjalanan, konsumsi bahan bakar, biaya awak, serta kebutuhan kapal untuk mengangkut volume barang yang sama. Dampaknya kemudian dapat menjalar menuju biaya logistik dan harga komoditas di berbagai negara.
Ancaman terhadap jalur minyak menjadi semakin serius karena kondisi kawasan Timur Tengah pada 2026 juga membuat Selat Hormuz menghadapi tekanan. Jalur tersebut sebelum konflik terbaru menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, sehingga gangguan terhadap pelayaran telah memberikan tekanan terhadap pasokan energi internasional. Aktivitas kapal komoditas yang melewati Hormuz pada awal September tercatat berada di bawah rata-rata 10 hari sebelumnya. Bab el-Mandeb juga menunjukkan penurunan lalu lintas kapal dibandingkan rata-rata periode yang sama. Apabila dua titik sempit strategis tersebut menghadapi gangguan secara bersamaan, perusahaan energi memiliki pilihan rute yang semakin terbatas. Situasi semacam itu dapat meningkatkan premi risiko dan biaya pengiriman meskipun pasokan minyak secara fisik belum sepenuhnya terputus.
Dampaknya terhadap pasar energi sudah terlihat dari meningkatnya sensitivitas harga minyak terhadap perkembangan keamanan di kawasan. Harga minyak Brent bergerak di kisaran pertengahan 90 dolar AS per barel pada awal September ketika pasar merespons konflik dan risiko gangguan pasokan. Perusahaan pelayaran juga harus mempertimbangkan biaya asuransi yang dapat meningkat ketika kapal memasuki wilayah berisiko tinggi. Kapal tanker bahkan dapat memilih menunggu perkembangan keamanan atau mengubah rute apabila risiko serangan dinilai terlalu besar. Keputusan tersebut membuat waktu pengiriman menjadi lebih panjang dan pasokan tiba lebih lambat di negara tujuan. Dalam skala besar, gangguan berkepanjangan dapat meningkatkan biaya energi bagi industri, transportasi, pembangkit listrik, dan masyarakat.
Houthi telah menunjukkan kemampuan mengganggu pelayaran komersial di kawasan Laut Merah sejak beberapa tahun terakhir. Kemampuan tersebut mencakup penggunaan rudal dan drone yang memberikan ancaman terhadap kapal dari jarak relatif jauh. Sementara itu, Al-Shabaab selama ini lebih dikenal melalui aktivitas militannya di Somalia dan kawasan Afrika Timur. Kekhawatiran muncul apabila kemampuan teknologi dan pengalaman Houthi dikombinasikan dengan jaringan lokal yang dimiliki Al-Shabaab di sekitar pantai Somalia. Al-Shabaab dapat memperoleh kemampuan lebih baik dalam pengintaian atau penggunaan drone, sementara Houthi berpotensi memperluas jaringan informasi dan logistiknya di sisi Afrika. Kombinasi itulah yang membuat perkembangan hubungan kedua kelompok dipandang sebagai persoalan keamanan maritim regional.
Namun, menyebut kerja sama tersebut sebagai aliansi militer yang sepenuhnya terintegrasi masih membutuhkan kehati-hatian. Hubungan Houthi dan Al-Shabaab sebelumnya digambarkan lebih sebagai hubungan transaksional atau oportunistis daripada kemitraan berdasarkan kesamaan ideologi. Kepentingan kedua kelompok tidak selalu identik dan terdapat perbedaan besar dalam latar belakang politik maupun keagamaan mereka. Kerja sama dapat berlangsung karena masing-masing mendapatkan keuntungan tertentu dari perdagangan senjata, penyelundupan, pertukaran kemampuan, atau akses jaringan. Karena itu, perkembangan hubungan tersebut lebih tepat dilihat sebagai peningkatan kolaborasi yang berpotensi memperbesar ancaman keamanan daripada menganggap keduanya telah menjadi satu kesatuan organisasi.
Negara-negara di sekitar Laut Merah dan Teluk Aden kini menghadapi tantangan menjaga keamanan kawasan yang menjadi urat nadi perdagangan internasional. Pengawasan terhadap kapal mencurigakan, jalur penyelundupan, transfer senjata, dan aktivitas kelompok bersenjata menjadi semakin penting. Operasi keamanan maritim juga harus memperhitungkan bahwa ancaman dapat datang dari dua sisi Bab el-Mandeb, yakni Yaman di sebelah timur dan kawasan Tanduk Afrika di sebelah barat. Di sisi lain, penanganan tidak dapat hanya mengandalkan kekuatan militer karena jaringan penyelundupan memiliki hubungan dengan persoalan ekonomi, konflik lokal, dan lemahnya pengawasan wilayah tertentu. Kerja sama intelijen serta koordinasi lintas negara menjadi bagian penting untuk mencegah peningkatan kemampuan kelompok bersenjata.
Menguatnya hubungan Houthi dan Al-Shabaab pada akhirnya menambah satu lagi lapisan risiko terhadap sistem perdagangan dan energi dunia. Kekhawatiran terbesar bukan hanya kemungkinan sebuah kapal diserang, tetapi efek berantai apabila perusahaan pelayaran secara luas menilai Bab el-Mandeb dan Teluk Aden tidak lagi aman. Perubahan rute dapat meningkatkan biaya transportasi dan memberikan tekanan tambahan terhadap harga energi global, terlebih ketika Selat Hormuz juga menghadapi gangguan. Meski belum berarti pasokan minyak dunia akan terputus, kombinasi ketidakstabilan pada dua jalur strategis tersebut membuat pasar semakin rentan terhadap setiap eskalasi. Perkembangan hubungan Houthi dan Al-Shabaab karena itu akan terus menjadi perhatian dalam upaya menjaga keamanan Laut Merah sekaligus kestabilan jalur perdagangan energi internasional.




