Jakarta, 30 Agustus 2026 – Cita-cita menjadi dokter yang dipupuk sejak kecil akhirnya berhasil diwujudkan oleh dr. I Gede Kevin Hindu Dharmawan, S.Ked. Meski merupakan penyandang disabilitas dan menghadapi hambatan fisik, Kevin mampu menyelesaikan pendidikan kedokteran dengan prestasi membanggakan, yakni meraih IPK sempurna 4,00 dan predikat cumlaude.
Kevin menyelesaikan pendidikan kedokteran selama sekitar enam tahun di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar (Unizar). Ia kemudian mengikuti Sumpah Dokter Periode ke-51 dan resmi menyandang gelar dokter.
Perjalanan tersebut tidak ditempuh dengan mudah. Sebagai penyandang disabilitas, Kevin harus menghadapi berbagai tantangan fisik selama menjalani pendidikan. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya mengurungkan niat untuk mengejar profesi yang telah diimpikannya sejak kecil.
Menurut Kevin, keterbatasan justru menjadi motivasi untuk terus berkembang dan memberikan kemampuan terbaik. Ia menjalani setiap tahapan pendidikan dengan kesungguhan, konsistensi, serta kemauan untuk terus belajar.
“Bagi saya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita. Justru, kondisi tersebut menjadi motivasi untuk terus berkembang dan memberikan yang terbaik,” ujar Kevin.
Dukungan Keluarga dan Kampus
Keberhasilan Kevin juga tidak terlepas dari dukungan orang-orang di sekitarnya. Keluarga, terutama orang tua, teman-teman, dosen, serta lingkungan Fakultas Kedokteran Unizar memberikan dukungan selama ia menjalani pendidikan.
Dukungan tersebut membuat Kevin semakin percaya diri menghadapi berbagai proses dalam pendidikan kedokteran. Lingkungan yang memberikan ruang bagi mahasiswa penyandang disabilitas untuk berkembang juga menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya.
Kevin menilai pencapaian IPK 4,00 bukan semata-mata hasil perjuangan pribadi. Dukungan dari orang-orang yang berada di sekelilingnya turut membantunya bertahan dan menyelesaikan pendidikan dengan hasil terbaik.
Pengalaman Disabilitas Jadi Bekal Menjadi Dokter
Pengalaman hidup sebagai penyandang disabilitas juga memberikan perspektif tersendiri bagi Kevin dalam memandang profesi dokter. Ia menyadari bahwa setiap pasien memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda.
Karena itu, Kevin ingin menggabungkan kemampuan medis dengan empati ketika nantinya memberikan pelayanan kesehatan. Ia berharap pengalaman pribadinya dapat membuat dirinya lebih memahami pasien, terutama mereka yang juga memiliki disabilitas atau membutuhkan perhatian khusus.
“Saya ingin memberikan pelayanan dengan penuh empati dan memahami pasien secara lebih menyeluruh, termasuk kepada pasien penyandang disabilitas,” ungkapnya.
Menurut Kevin, seorang dokter tidak cukup hanya memiliki kemampuan dalam bidang medis. Sikap empati dan kemampuan memahami kondisi pasien juga menjadi bagian penting dalam memberikan pelayanan kesehatan yang manusiawi.
Ingin Berkontribusi bagi Masyarakat
Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran, Kevin berharap ilmu yang diperolehnya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Ia ingin berkontribusi dalam bidang kesehatan, terutama bagi masyarakat di daerahnya.
Prestasi yang diraihnya juga menjadi bukti bahwa mahasiswa penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk mencapai prestasi tinggi apabila mendapatkan dukungan dan kesempatan yang sesuai.
Kevin pun menyampaikan pesan kepada mahasiswa maupun calon dokter penyandang disabilitas agar tidak takut mengejar impian. Tantangan dan keterbatasan, menurutnya, bukan alasan untuk berhenti berusaha.
Ia mengajak penyandang disabilitas untuk terus belajar, mengembangkan kemampuan, dan berani mengambil kesempatan yang tersedia.
“Mungkin dalam perjalanan akan ada tantangan dan keterbatasan yang harus dihadapi. Namun, selama kita memiliki kemauan, dukungan, dan terus berusaha, saya yakin kita bisa mencapai apa yang kita cita-citakan,” pesannya.
Kevin juga meminta penyandang disabilitas tidak merasa takut atau minder ketika ingin mengejar pendidikan dan profesi yang diimpikan.
“Jangan merasa takut atau minder. Selama kita memiliki kemauan untuk belajar dan berkembang, teruslah berusaha,” lanjutnya.
Kisah Kevin menjadi gambaran bahwa perjalanan menuju profesi dokter membutuhkan ketekunan, konsistensi, dan dukungan lingkungan. Di tengah berbagai hambatan yang dihadapinya sebagai penyandang disabilitas, ia berhasil menuntaskan pendidikan kedokteran sekaligus meraih IPK sempurna 4,00.
Kini, setelah resmi menjadi dokter, Kevin membawa pengalaman tersebut sebagai bekal untuk memberikan pelayanan kesehatan yang tidak hanya mengandalkan kemampuan medis, tetapi juga mengutamakan empati dan pemahaman terhadap kebutuhan setiap pasien.




