Jakarta, 18 Oktober 2026 – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melakukan kunjungan silaturahmi kepada tokoh Nahdlatul Ulama, KH Marsudi Syuhud. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk membahas peran penting santri dalam mendukung pembangunan nasional dan menghadapi berbagai tantangan zaman. KH Marsudi menekankan bahwa kalangan santri memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat. Pendidikan pesantren dinilai memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya memahami nilai-nilai keagamaan, tetapi juga memiliki kepedulian sosial. Pembahasan mengenai kontribusi santri menjadi salah satu perhatian utama dalam pertemuan tersebut.
Kunjungan Gibran kepada KH Marsudi Syuhud mencerminkan pentingnya komunikasi antara pemerintah dan tokoh keagamaan dalam membahas persoalan pembangunan. Pesantren sebagai lembaga pendidikan memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat di berbagai daerah Indonesia. Selain mengajarkan ilmu agama, pesantren juga menjadi tempat pembentukan karakter, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial. Dalam perkembangannya, banyak lulusan pesantren yang berkiprah di bidang pendidikan, ekonomi, pemerintahan, hingga kewirausahaan. Potensi tersebut menjadi alasan pentingnya keterlibatan santri dalam agenda pembangunan yang lebih luas. Kolaborasi antara pemerintah dan lembaga pendidikan keagamaan dapat membuka kesempatan bagi pengembangan kemampuan generasi muda.
KH Marsudi Syuhud menyoroti pentingnya memandang santri sebagai bagian aktif dalam proses pembangunan bangsa. Santri tidak hanya memiliki tanggung jawab menjaga tradisi keilmuan dan nilai keagamaan, tetapi juga dapat berpartisipasi dalam menjawab kebutuhan masyarakat modern. Perkembangan teknologi, perubahan ekonomi, dan persaingan dunia kerja menghadirkan tantangan yang membutuhkan kemampuan beradaptasi. Oleh karena itu, penguatan kompetensi santri menjadi aspek yang perlu mendapatkan perhatian. Pendidikan agama dapat berjalan berdampingan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan digital, dan kemampuan kewirausahaan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperluas kesempatan santri untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.
Peran pesantren dalam pembangunan nasional memiliki akar sejarah yang panjang. Lembaga pendidikan ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia sejak jauh sebelum terbentuknya sistem pendidikan modern. Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat pembelajaran agama, tetapi juga sebagai tempat berkembangnya aktivitas sosial dan pemberdayaan masyarakat. Dalam berbagai periode sejarah, kalangan ulama dan santri turut mengambil bagian dalam perjuangan serta pembentukan kehidupan berbangsa. Warisan tersebut menjadi modal sosial yang dapat terus dikembangkan sesuai kebutuhan zaman. Dengan mempertahankan nilai-nilai pendidikan yang dimiliki, pesantren dapat memperluas perannya dalam pembangunan masyarakat yang inklusif.
Kunjungan Gibran ke Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah (Dalwa) di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada Jumat (16/10/2026), juga diisi dengan peninjauan pembelajaran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan robotik. Program tersebut menjadi salah satu contoh pengembangan pendidikan teknologi di lingkungan pesantren. Gibran mendorong para santri agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan inovasi yang bermanfaat. Penguasaan teknologi dinilai perlu disertai kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan persoalan. Dengan demikian, santri diharapkan memiliki bekal untuk menghadapi perubahan dunia kerja tanpa meninggalkan nilai agama dan akhlak.
Menanggapi perhatian pemerintah terhadap pendidikan teknologi di pesantren, KH Marsudi berharap kunjungan tersebut dapat ditindaklanjuti melalui dukungan yang konkret. Kebutuhan yang menjadi perhatian mencakup akses internet, perangkat komputer, serta tenaga pengajar yang memiliki kemampuan di bidang teknologi. Penyediaan fasilitas tersebut dinilai penting agar pembelajaran digital dapat berlangsung secara berkelanjutan. Penguasaan teknologi juga memerlukan pendampingan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan peserta didik. Dengan dukungan sarana yang memadai, pesantren memiliki kesempatan lebih luas untuk mengembangkan keterampilan para santri.
KH Marsudi juga mengingatkan bahwa pembangunan nasional merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan seluruh unsur masyarakat. Menurutnya, pemerintah tidak dapat menjalankan seluruh agenda pembangunan tanpa dukungan berbagai kelompok masyarakat, termasuk pesantren. Kontribusi santri dapat diwujudkan melalui kegiatan sosial, pemberdayaan ekonomi, pengembangan pendidikan, serta pelestarian kebudayaan. Keterlibatan tersebut perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masyarakat di setiap daerah. Melalui kerja sama yang berkelanjutan, pesantren dapat memperkuat perannya sebagai lembaga pendidikan sekaligus pusat pemberdayaan masyarakat.
Silaturahmi Gibran dengan kalangan pesantren serta tanggapan KH Marsudi Syuhud menjadi bagian dari pembahasan mengenai masa depan pendidikan santri di Indonesia. Perhatian terhadap penguasaan teknologi menunjukkan adanya kebutuhan untuk memperluas kesempatan belajar di lingkungan pesantren. Namun, pengembangan tersebut tetap perlu diimbangi dengan penguatan pendidikan karakter dan nilai-nilai keagamaan. Dukungan pemerintah diharapkan tidak berhenti pada kunjungan, tetapi juga diwujudkan melalui program yang sesuai dengan kebutuhan lembaga pendidikan. Dengan keterlibatan berbagai pihak, santri memiliki kesempatan untuk berkontribusi lebih besar dalam pembangunan moral, ekonomi, sosial, dan kebudayaan bangsa.




