Jakarta, 2 Oktober 2026 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil berbalik menguat pada penutupan perdagangan Jumat (2/10/2026) setelah sempat berada di zona merah. IHSG ditutup naik 27,39 poin atau 0,46 persen ke posisi 6.036,89. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak sangat fluktuatif dan sempat terperosok ke level 5.900. Titik terendah perdagangan tercatat sekitar 5.979,98, sedangkan level tertinggi mencapai 6.053,23.
IHSG mengawali perdagangan pada posisi sekitar 6.018 sebelum tekanan jual membawa indeks turun ke bawah level psikologis 6.000. Pada awal perdagangan, indeks sempat bergerak ke 5.991 setelah sebelumnya mencatat penguatan tipis. Tekanan tersebut melanjutkan volatilitas tinggi yang terjadi di pasar saham domestik sepanjang pekan. Namun, menjelang berakhirnya perdagangan, aksi beli mampu membawa IHSG kembali menembus level 6.000 dan bertahan di zona hijau hingga penutupan.
Aktivitas transaksi pada perdagangan kali ini tetap ramai meskipun pergerakan indeks berlangsung naik turun. Data perdagangan mencatat nilai transaksi sekitar Rp12,25 triliun dengan volume mencapai 121,54 miliar saham. Frekuensi transaksi berada di kisaran 1,62 juta kali. Sebanyak 319 saham ditutup menguat, sementara 337 saham melemah dan 134 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Penguatan IHSG terutama mendapatkan dukungan dari sejumlah indeks sektoral. Sektor teknologi memimpin kenaikan sebesar 1,51 persen, disusul energi yang menguat 1,12 persen dan barang konsumen primer sebesar 0,67 persen. Sektor bahan baku juga menguat sekitar 0,47 persen. Sebaliknya, sektor industri menjadi salah satu pemberat dengan penurunan sekitar 1,70 persen, diikuti transportasi dan infrastruktur yang masing-masing terkoreksi 1,38 persen dan 0,90 persen.
Sejumlah saham mencatat kenaikan tinggi pada perdagangan Jumat. Saham PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) dan PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD) sama-sama melonjak 25 persen, sedangkan PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) naik 24,89 persen. Di sisi lain, PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) menjadi salah satu saham dengan koreksi terbesar setelah turun 14,98 persen. Saham PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk (CCSI) juga melemah 14,89 persen.
Pergerakan pasar turut berlangsung di tengah sejumlah sentimen domestik dan global yang menjadi perhatian investor. Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati inflasi September yang tercatat 3,28 persen secara tahunan, sementara inflasi bulanan berada di level 0,30 persen. Neraca perdagangan Indonesia yang masih mencatat surplus turut menjadi perhatian karena dapat memberikan dukungan terhadap sektor eksternal. Pada saat bersamaan, perkembangan geopolitik dan kenaikan harga minyak global ikut memengaruhi kehati-hatian investor.
Kembalinya IHSG ke level 6.036 menunjukkan adanya aksi beli setelah indeks sempat tertekan ke bawah 6.000. Meski demikian, pergerakan pasar masih berpotensi fluktuatif karena investor akan kembali mencermati perkembangan ekonomi domestik dan sentimen global pada pekan berikutnya. Sejumlah data seperti cadangan devisa, indeks keyakinan konsumen, penjualan ritel, dan penjualan otomotif dijadwalkan menjadi perhatian pasar. Setelah mengalami tekanan cukup besar dalam beberapa perdagangan sebelumnya, kemampuan IHSG mempertahankan area 6.000 akan menjadi salah satu fokus pelaku pasar selanjutnya.





