Jakarta, 1 September 2026 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Selasa (1/9/2026) dengan penguatan signifikan. IHSG naik 74,46 poin atau 1,14 persen ke level 6.599,94. Indeks bergerak di zona positif setelah dibuka pada posisi 6.538,12 dan sepanjang perdagangan sempat menyentuh level terendah 6.535 serta level tertinggi 6.608,18. Penguatan tersebut membuat IHSG kembali mendekati level psikologis 6.600 pada awal perdagangan September.
Pergerakan positif IHSG turut didukung oleh mayoritas saham yang berakhir di zona hijau. Sebanyak 407 saham tercatat menguat, sementara 215 saham melemah dan 169 saham lainnya bergerak stagnan. Aktivitas perdagangan juga cukup ramai dengan volume sekitar 51,32 miliar saham dan frekuensi transaksi mencapai lebih dari 2,6 juta kali. Nilai transaksi saham pada perdagangan hari tersebut mencapai sekitar Rp19,82 triliun.
Sejumlah indeks utama juga mengikuti penguatan IHSG. Indeks LQ45 naik 1,64 persen ke level 654,411, sedangkan IDX30 menguat 1,67 persen ke level sekitar 366. Indeks JII turut naik 0,48 persen menjadi sekitar 397, sementara MNC36 meningkat 1,64 persen ke level sekitar 285. Penguatan berbagai indeks tersebut menunjukkan sentimen positif tidak hanya terjadi pada saham-saham yang masuk dalam IHSG secara keseluruhan, tetapi juga merata pada sejumlah kelompok saham unggulan.
Dari sebelas indeks sektoral yang dipantau, mayoritas sektor juga ditutup menguat. Sektor energi, konsumer siklikal, industri, konsumer non-siklikal, transportasi, properti, teknologi, kesehatan, dan keuangan berada di zona hijau. Sementara itu, sektor infrastruktur dan bahan baku menjadi dua sektor yang berakhir melemah. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penguatan IHSG pada perdagangan pertama September mendapat dukungan cukup luas dari berbagai sektor.
Dari jajaran saham dengan kenaikan terbesar, PT Wilton Makmur Indonesia Tbk (SQMI) menjadi salah satu yang paling mencolok dengan penguatan 34,92 persen menjadi Rp85 per saham. PT Kusuma Kemindo Sentosa Tbk (KKES) menyusul dengan kenaikan 34,33 persen ke Rp90. Sementara itu, Nusantara Almazia (NZIA) menguat 24,31 persen menjadi Rp179 dan Wahan Interfood Nusantara (COCO) naik 21,70 persen ke Rp129. Pergerakan saham-saham tersebut ikut memberikan warna terhadap aktivitas perdagangan pada awal September.
Di tengah penguatan pasar saham, nilai tukar rupiah justru tercatat mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat. Rupiah pada sekitar pukul 16.00 WIB berada di level Rp17.744 per dolar AS atau melemah sekitar 0,12 persen. Pergerakan rupiah tersebut menunjukkan bahwa sentimen di pasar saham dan pasar valuta asing tidak sepenuhnya bergerak searah pada perdagangan hari ini. Investor masih mencermati perkembangan ekonomi domestik dan global yang dapat memengaruhi arah pasar keuangan dalam beberapa waktu ke depan.
Penguatan IHSG pada perdagangan 1 September juga berlangsung di tengah rilis sejumlah data ekonomi domestik, termasuk data inflasi Agustus 2026 dan perkembangan neraca perdagangan. Kombinasi sentimen dari data ekonomi tersebut dengan pergerakan saham sektoral menjadi bagian dari dinamika pasar pada awal bulan. Setelah ditutup di level 6.599,94, perhatian pelaku pasar selanjutnya akan tertuju pada kemampuan IHSG mempertahankan momentum penguatan. Pergerakan volume transaksi, arus dana, serta perkembangan sentimen global akan menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi arah indeks pada perdagangan berikutnya.




